Tampilkan postingan dengan label Timur Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Timur Tengah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Desember 2016

Netanyahu kritik Obama terkait Resolusi DK PBB

Netanyahu kritik Obama terkait Resolusi DK PBB
Anak Israel dari pemukiman Amona di kawasan Tepi Barat pada 7 September 2016. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB) yang beranggotakan 15 negara --dengan lima negara anggota tetap-- pada Jumat (23/12/2016) mengesahkan resolusi bahwa pemukiman Israel semacam itu tidak sah, (AFP Photo/Menahem Kahana)
 Resolusi ini bukan tentang 'anti-Israel', melainkan resolusi yang berimbang, yang menentang pendudukan, bukan menentang Israel."
Jerusalem (ANTARA News) - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengkritik keras pemerintahan Presiden Barack Obama karena Amerika Serikat (AS) menyatakan abstain dalam pemungutan suara di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sehingga memunculkan Resolusi PBB menuntut Israel mengakhiri pembangunan pemukiman.

"Pemerintahan Obama telah melakukan manuver licik dan anti-Israel di DK PBB," kata Netanyahu soal resolusi yang disahkan 15 negara anggota DK PBB, Jumat. Selama ini AS memveto kebijakan semacam itu.

Netanyahu menyiratkan bahwa Israel kemungkinan akan memutuskan hubungan dengan PBB.

Ia menegaskan telah memerintahkan agar aliran dana 30 juta shekel (sekitar Rp105 miliar) dihentikan bagi lima badan PBB yang "sangat bersikap memusuhi".

"Tidak ada yang paling konyol selain menyebut Tepi Barat sebagai 'wilayah yang diduduki'," kata Netanyahu.

Pernyataannya itu mengacu ke Jerusalem Timur, wilayah yang direbut Israel pada 1967, dan akan dijadikan Palestina sebagai ibu kota negara di masa depan.

Kabinet Israel telah menyatakan tekad untuk bereaksi dengan mencaplok secara penuh wilayah-wilayah pemukiman, yang termasuk wilayah Palestina.

Pemungutan suara DK PBB dilangsungkan setelah Israel mengeluarkan undang-undang yang mengesahkan pembangunan pemukiman Yahudi di sejumlah wilayah Palestina.

Resolusi DK PBB mendesak Israel untuk "segera dan sepenuhnya mengakhiri pemukiman di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Jerusalem Timur."

DK PBB menekankan bahwa pembangunan pemukiman oleh Israel "tidak memiliki keabsahan hukum dan merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional."

AS sebagai sekutu terdekat Israel, biasanya memveto resolusi semacam itu. Namun, Presiden Obama sudah memperlihatkan ketidaksukaannya atas aksi sepihak Israel di tanah Palestina.

Sementara itu, BTselem sebagai salah satu organisasi terbesar di Israel yang mendukung hak-hak asasi manusia langsung menyambut baik keluarnya Resolusi DK PBB.

"Resolusi DK PBB itu merupakan penegasan internasional bahwa pembangunan pemukiman Israel adalah tindakan ilegal, dan membahayakan hak-hak asasi manusia rakyat Palestina," catat B'Tselem.

Selain itu, mereka mencatat pula, "Resolusi ini bukan tentang 'anti-Israel', melainkan resolusi yang berimbang, yang menentang pendudukan, bukan menentang Israel."

Sekira 500.000 warga Yahudi tinggal di Tepi Barat dan Jerusalem Timur, yaitu wilayah-wilayah yang direbut Israel dalam perang 1967.

Sejak itu, Israel menguasai tanah-tanah tersebut kendati masyarakat internasional mengecamnya.

AS secara resmi menentang pembangunan permukiman dan menganggap kegiatan itu sebagai penghalang perdamaian.

Hukum internasional pun mencatat bahwa pembangunan pemukiman Israel di wilayah itu sebagai hal tidak sah.
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Kena resolusi, Israel akan pertimbangkan hubungan dengan PBB

Kena resolusi, Israel akan pertimbangkan hubungan dengan PBB
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (REUTERS/Ronen Zvulun)
 Saya telah memerintahkan agar pemberian dana sebesar 30 juta shekels dihentikan ke lima lembaga dan lima badan PBB ..."
Jerusalem (ANTARA News) - Israel akan meninjau kembali hubungannya dengan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) setelah Dewan Keamanan (DK) PBB mengeluarkan resolusi yang menuntut Israel menghentikan pembangunan permukiman, demikian Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Resolusi itu disahkan oleh DK PBB beranggotakan 15 negara itu pada Jumat (23/12), setelah Amerika Serikat (AS) menyatakan abstain sekaligus menandai memutus pendekatannya selama ini dalam memberikan perlindungan diplomatik bagi Israel.

Saat pemungutan suara di Dewan Keamanan, AS tidak menggunakan hak veto (menolak) terhadap rancangan seperti yang telah sering dilakukannya. Netanyahu menyebut keputusan AS itu sebagai sikap yang "memalukan".

"Saya sudah meminta Kementerian Luar Negeri untuk dalam waktu satu bulan menyelesaikan peninjauan kembali seluruh hubungan kita dengan Perserikatan Bangsa Bangsa, termasuk pemberian dana Israel ke lembaga-lembaga PBB serta keberadaan perwakilan PBB di Israel," kata Netanyahu dalam pidato yang juga dikutip Reuters.

Ia menimpali, "Saya telah memerintahkan agar pemberian dana sebesar 30 juta shekels dihentikan ke lima lembaga dan lima badan PBB, yang terutama bersikap memusuhi Israel, dan masih ada lagi yang akan dilakukan."

Netanyahu tidak menyebutkan nama-nama lembaga yang dimaksudnya, dan tidak memberikan keterangan lebih lanjut.

Sebagai anggota tetap DK PBB, AS pada pemungutan suara menyatakan abstain terhadap resolusi mengenai pemukiman bangsa Israel di wilayah Palestina.

Resolusi itu diambil DK PBB, di tengah tekanan berat dari Israel yang telah sekian lama menjadi sekutu utama AS. Apalagi, ada permintaan Presiden terpilih AS Donald Trump agar Washington menggunakan hak vetonya. Resolusi itu akhirnya disahkan atas dukungan dari 14 negara.

Israel selama berpuluh-puluh tahun menjalankan kebijakan membangun permukiman Yahudi di wilayah yang direbut Israel saat perang 1967 dengan tetangga-tetangga Arabnya, termasuk Tepi Barat, Gaza dan Jerusalem Timur.

Sebagian besar negara melihat kegiatan pembangunan permukiman oleh Israel di Tepi Barat dan Jerusalem Timur sebagai tindakan ilegal dan merupakan penghambat perdamaian.
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Pembunuh dubes Karlov; antara pendiam dan kecewa Erdogan dekat Rusia

Pembunuh dubes Karlov; antara pendiam dan kecewa Erdogan dekat Rusia
Mevlut Mert Altintas (kiri) terlihat di belakang Duta Besar Rusia untuk Turki Andrey Karlov yang sedang berbicara dalam pameran foto di Ankara, dan kemudian ditembak mati Altintas dari belakang (Reuters)
Soke, Turki (ANTARA News) - Seorang tetangga keluarga Mavlut Altintas, penembak mati duta besar Rusia untuk Suriah Andrei Karlov, menyebut Altintas sosok yang menjaga jarak dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama adik tiri dan neneknya.

Tak ada yang tahu sewaktu muda Altintas pernah bersumpah setia kepada Fethullah Gulen. Gulen adalah bekas sekutu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan sukses membangun jejaring yang luas di kepolisian. Gulen membantah tudingan Erdogan bahwa dia berada di balik kudeta gagal Juli silam.

"Dia anak yang butuh bantuan. Dia anak pendiam yang tak punya teman di sekolah," kata Bahri Gokciyel yang sama-sama berasal dari kota Soke yang kini bekerja di kedai teh di Soke.

Gokciyel menyebut Altintas dua kali gagal lulus ujian masuk perguruan tinggi.

Erdogan menyebut Altintas pengikut Gulen, padahal sehabis menembak mati dubes Karlov, pria yang lolos dari penjagaan karena mengenakan lencana polisi itu sempat meneriakkan slogan-slogan Islam garis keras yang bertolak belakang dengan ajaran moderat dan mempromosikan dialog antaragama yang dipromosikan Gulen.

Setelah pindah dari Soke ke Ankara karena telah menjadi polisi, Altintas kerap pulang ke kampung halamannya di Soke.

"Mert lebih sering tinggal bersama neneknya, kami pernah melihatnya di jalanan sewaktu kami bermain," kata pemuda berusia 22 tahun bernama Tolga Tosun, yang tumbuh berkembang bersama Altintas, dan kini menjadi aktivis partai di Soke.

"Dia tidak pernah mau bergaul, tidak pernah mau berbicara kepada siapa pun. Dia selalu sendiri dan berdiam diri," sambung Tosun.

Tosun bahkan menyatakan keluarga besar Altintas adalah pendukung partai nasionalis dan mereka keluarga yang saleh.

Tindakan yang dilakukan Altintas menimbulkan pertanyaan mengenai dampak krisis Suriah terhadap Turki.

Sejumlah orang Turki yang taat beragama yang kerap mengikuti anjuran Erdogan mengenai pentingnya menyelamatkan Suriah dari Presiden Bashar al-Assad, kini kecewa terhadap berbalik dekatnya Erdogan kepada Rusia yang tak lain adalah penyokong utama Bashar al-Assad.

"Sejak 2011, retorika keras pemerintah menyangkut Suriah telah membuat konstituen (Erdogan) begitu sensitif menyangkut tragedi yang berlangsung di Suriah," kata Sinan Ulgen, bekas diplomat Turki dan analis pada Carnegie Europe.

"Konstituen ini menjadi kehilangan arah dan hampir merasa dikecewakan," sambung dia.

Di Soke, beberapa warga kota ini melihat sisi gelap Gulen yang disebut pemerintah "Organisasi Teror Gulenis".

Gokciyel, bekas tetangga Altintas, yakin Altintas telah menggunakan koneksi Gulenis untuk bisa masuk akademi polisi. Pemerintah sendiri sudah lama menganggap para pengikut Gulen telah memanfaatkan lembaga-lembaga pendidikan afilliasi mereka untuk menyusup ke sistem layanan publik dan polisi.

Tetapi apa pun yang terjadi nanti, penduduk kota Soke, seperti kebanyakan orang Turki umumnya, merasa suasana menjadi lain setelah pembunuhan duta besar Rusia itu.

"Membunuh seorang duta besar itu memalukan. Tidak saja bagi si pembunuh, tetapi juga bagi negara kami," kata Yurdakos Elgun dari partai oposisi sekuler CHP.

"Leluhur kami mengajarkan kepada kami tamu itu tidak boleh dibinasakan," tutup dia seperti dikutip Reuters.
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016